PT Pupuk Indonesia (Persero) berkomitmen untuk menjaga keseimbangan antara ketahanan produksi nasional dan transformasi industri rendah karbon di tengah ketidakpastian geopolitik global. Langkah strategis ini diambil guna memastikan stabilitas pasokan pupuk dalam negeri sekaligus mencapai target keberlanjutan lingkungan.

Sekretaris Perusahaan PT Pupuk Indonesia (Persero), Yehezkiel Adiperwira, menegaskan bahwa adaptasi terhadap ekonomi rendah karbon kini menjadi sebuah keniscayaan bagi sektor industri. Menurutnya, operasional perusahaan harus tetap berjalan optimal beriringan dengan pencapaian target iklim.

"Transformasi menuju ekonomi rendah karbon itu bukan lagi pilihan, tetapi sebuah keniscayaan. Karena itu, industri harus tetap berjalan, namun di saat yang sama target-target iklim juga harus tetap dicapai," ujar Yehezkiel dalam sesi Green Tech for Tomorrow di acara IDE Katadata Future Forum 2026 yang berlangsung di Djakarta Theater, Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Dari sisi operasional, Pupuk Indonesia mengandalkan kemandirian bahan baku sebagai fondasi ketahanan industri. Ketersediaan gas alam domestik menjadi faktor kunci yang menjaga stabilitas produksi pupuk nasional, terutama saat rantai pasok global terancam gangguan.

Yehezkiel mencontohkan, risiko konflik di Selat Hormuz yang berpotensi mengganggu 30 persen pasokan urea dunia tidak berdampak signifikan terhadap Indonesia. Hal ini disebabkan oleh kuatnya kapasitas produksi dalam negeri yang didukung oleh pasokan gas alam domestik yang stabil.

Pada tahun ini, Pupuk Indonesia menargetkan produksi urea sebesar 7,8 juta ton, sementara kebutuhan domestik diperkirakan berada di angka 6,3 juta ton. Surplus produksi ini tidak hanya menjamin keamanan stok nasional, tetapi juga memposisikan Pupuk Indonesia sebagai stabilisator pasokan urea di pasar global. Meski demikian, Yehezkiel menekankan bahwa prioritas utama perusahaan tetaplah pemenuhan kebutuhan petani di dalam negeri.

Selain memperkuat produksi, Pupuk Indonesia juga mengakselerasi strategi dekarbonisasi melalui pengembangan portofolio energi bersih. Perusahaan kini fokus mengembangkan clean ammonia, yang mencakup green ammonia berbasis energi terbarukan serta blue ammonia yang mengintegrasikan teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS).

"Kami secara bertahap menyiapkan strategi untuk mengurangi ketergantungan pada gas alam, di antaranya melalui pengembangan green ammonia dan blue ammonia dengan dukungan teknologi CCUS," jelas Yehezkiel.

Upaya transisi energi ini juga diperluas melalui rencana pembangunan pabrik metanol di Aceh dan Kalimantan Timur. Proyek ini diproyeksikan untuk mendukung program B50 pemerintah sekaligus memperkokoh kemandirian energi nasional.