SWISSPresiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mencuri perhatian dunia saat tampil di World Economic Forum (WEF) Davos 2026, Swiss, Kamis, 22 Januari 2026.

Dalam pidatonya, Prabowo secara tegas mengkritik praktik greedconomics atau ekonomi serakah yang dinilai mengorbankan kepentingan rakyat demi keuntungan segelintir elite.

Pernyataan tersebut langsung viral dan memantik perdebatan luas, termasuk di Indonesia. Sebagian pihak mempertanyakan relevansi kunjungan Presiden ke forum global elite itu, terutama di tengah tantangan ekonomi dan isu kesejahteraan di dalam negeri.

Namun, di balik kritik yang muncul, pidato Prabowo justru dinilai membawa pesan moral kuat: menyerukan perubahan arah ekonomi global menuju keadilan sosial dan keberpihakan pada kelompok rentan.

“Ekonomi tidak boleh hanya menguntungkan segelintir orang, sementara jutaan lainnya tertinggal dan kelaparan,” tegas Prabowo di hadapan para pemimpin dunia.

Narasi Negatif di Medsos, Pesan Moral Justru Menguat

Di media sosial, sejumlah unggahan warganet menyoroti ironi antara kritik Prabowo terhadap greedconomics global dengan berbagai persoalan struktural di dalam negeri. Ada pula yang mempertanyakan anggaran dan kehadiran rombongan menteri dalam forum Davos.

Namun, alih-alih melemahkan pesan Presiden, perdebatan itu justru menegaskan satu hal: praktik ekonomi serakah memang nyata dan menjadi persoalan bersama, baik di tingkat global maupun nasional. Fenomena penggunaan buzzer berbiaya mahal hingga praktik ekonomi yang jauh dari nilai keadilan sosial menjadi contoh konkret bagaimana greedconomics bekerja dan perlu dilawan secara sistemik.

Prabowonomics dan MBG: Negara Hadir untuk Rakyat