YAHUKIMO – Klaim Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) yang menuding empat guru yang tewas ditembak di Kabupaten Yahukimo sebagai informan Badan Intelijen Negara (BIN) dinilai sebagai propaganda semata. Pengamat Hak Asasi Manusia (HAM) menegaskan narasi tersebut digunakan TPNPB untuk menutupi tindakan kekerasan serius dan kejahatan terhadap warga sipil yang tidak bersalah.

Penilaian tajam ini menyusul pengumuman sepihak dari TPNPB yang mengklaim bertanggung jawab atas penembakan empat tenaga pendidik di Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, pada Senin (2/2/2026).

Efriza, pengamat keamanan HAM sekaligus dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Pamulang (UNPAM), menyatakan bahwa penembakan tersebut merupakan kejahatan berat terhadap masyarakat sipil.

“Ini adalah kejahatan berat terhadap masyarakat sipil. Korban adalah guru, bukan aparat intelijen. Tuduhan sebagai informan BIN tidak pernah dibuktikan dan hanya dijadikan alasan untuk membenarkan pembunuhan,” ujar Efriza, Selasa (4/2/2026). Ia menambahkan bahwa insiden ini bukan sekadar propaganda, tetapi murni kejahatan terhadap HAM.

Eksekusi Sepihak Tanpa Proses Hukum

TPNPB menyatakan para korban ditembak karena dianggap memasuki ‘zona merah’ dan dituding sebagai agen intelijen yang menyamar. Namun, Efriza menegaskan bahwa tindakan tersebut dilakukan tanpa proses pembuktian hukum, peringatan resmi, maupun mekanisme pengadilan yang berlaku.

“Ini bukan perang, ini eksekusi sepihak. Mereka dengan mudah menembak warga sipil tanpa proses hukum apa pun. Ini tindakan yang sangat tidak berprikemanusiaan,” tegas Efriza.

Pengamat menilai narasi “mata-mata” atau “informan” kerap digunakan secara sistematis oleh TPNPB untuk melegitimasi kekejaman terhadap masyarakat Papua. Pola serupa juga terjadi pada sejumlah kasus sebelumnya, termasuk pembunuhan pendulang emas dan warga sipil lain yang kemudian diklaim sebagai aparat atau informan pemerintah.

“Narasi informan BIN atau TNI selalu muncul setelah ada korban sipil. Ini murni propaganda untuk menyebar teror dan membangun pembenaran di mata simpatisan mereka,” jelasnya.