JAKARTA – Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day pada Jumat (1/5/2026) menghadirkan dinamika baru. Rencana aksi demonstrasi yang semula akan digelar di depan Gedung DPR RI dialihkan menjadi perayaan terpusat di Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat. Langkah ini diambil setelah perwakilan serikat pekerja mengedepankan pendekatan dialogis dengan pemerintah.
Peralihan agenda ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan antara perwakilan buruh dengan Presiden Prabowo Subianto yang berlangsung selama kurang lebih 1,5 jam. Dalam dialog tersebut, para buruh menyampaikan 11 tuntutan utama terkait isu ketenagakerjaan. Respons langsung dari Presiden terhadap sejumlah poin aspirasi tersebut menjadi alasan kuat bagi serikat pekerja untuk memilih jalur komunikasi dibandingkan aksi turun ke jalan.
Strategi ini dinilai sebagai pergeseran pola gerakan buruh, dari pendekatan konfrontatif menuju ruang komunikasi substansial. Perayaan di Monas dipandang sebagai forum yang lebih terarah untuk menyuarakan kepentingan pekerja secara kolektif.
Berdasarkan pantauan di lapangan, ratusan ribu buruh dari berbagai daerah mulai memadati kawasan Monas sejak Jumat pagi. Estimasi jumlah peserta mencapai 200 ribu orang, menjadikannya salah satu peringatan May Day terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Meski dikemas dalam bentuk perayaan, penyampaian aspirasi tetap menjadi inti acara melalui orasi politik dan pernyataan sikap resmi dari pimpinan serikat pekerja.
Kehadiran Presiden Prabowo Subianto di tengah massa buruh menjadi sorotan utama. Kehadiran kepala negara tersebut dinilai sebagai bentuk penghormatan terhadap peran strategis buruh dalam pembangunan nasional. Dalam kesempatan itu, pemerintah kembali menegaskan komitmennya terhadap kesejahteraan pekerja, termasuk melalui kebijakan upah, perlindungan tenaga kerja, dan program bantuan sosial.
Menanggapi isu yang beredar di media sosial mengenai adanya "kesepakatan politik" di balik pembatalan aksi di DPR, pihak serikat buruh menegaskan bahwa informasi tersebut tidak berdasar. Perubahan agenda murni didasarkan pada efektivitas dialog dan koordinasi teknis untuk menjaga kondusivitas situasi.
Dengan pengalihan ini, peringatan May Day 2026 diharapkan menjadi momentum penguatan hubungan industrial yang lebih inklusif dan konstruktif antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah.