SURAKARTA – Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menegaskan posisinya sebagai pusat peradaban Jawa melalui pembukaan Kraton Art Festival 2026. Acara yang digelar di Bangsal Smarakata pada Rabu (29/4) dalam rangka memperingati Hari Tari Dunia ini menjadi momentum refleksi sekaligus panggung diplomasi budaya menuju kancah global.

Sinuhun Paku Buwana (PB) XIV Hangabehi bersama Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), GKR Koes Moertiyah Wandansari, menekankan pentingnya revitalisasi Keraton secara menyeluruh. Upaya ini mencakup perbaikan fisik bangunan hingga pelestarian nilai-nilai budaya adiluhung yang menjadi identitas bangsa.

Diplomasi Budaya Indonesia–Chile
Rangkaian festival diawali dengan pertemuan budaya di Sasana Handrawina yang mempertemukan pihak Keraton dengan delegasi seni dari Chile. Duta Besar Chile untuk Indonesia, Mario Ignacio Artaza Loyola, hadir langsung untuk menemui Sinuhun PB XIV.

Pertemuan yang berlangsung hangat tersebut ditandai dengan pertukaran cenderamata sebagai simbol persahabatan antarbangsa. Momentum ini memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan Chile melalui pendekatan seni dan tradisi yang melampaui batas-batas politik.

Seni, Filosofi, dan Identitas
Di Bangsal Smarakata, Kraton Art Festival 2026 menyuguhkan dua pertunjukan utama yang sarat makna filosofis. Pertama adalah Tari Bedhaya Sukamulya, karya GKR Koes Moertiyah Wandansari yang dipersembahkan sebagai penghormatan kepada ayahandanya, PB XII.

Nama "Sukamulya" mengandung harapan agar keturunan Dinasti Mataram senantiasa hidup dalam kebahagiaan (suko) yang berlandaskan kemuliaan budi (mulyo). Pementasan ini diiringi musik sakral hasil garapan abdi dalem pengrawit di bawah pimpinan Raden Tumenggung Sunarno.

“Saya tidak berani menyebut diri sebagai pencipta tari. Saya hanya menyusun kembali karya-karya luar biasa dari para leluhur,” ujar sosok yang akrab disapa Gusti Moeng tersebut. Ia juga mengingatkan pesan PB XII untuk menjaga Tari Bedhaya Ketawang sebagai induk dari seluruh tarian Jawa.

Selain itu, festival menampilkan fragmen Tari Topeng Panji Sekartaji. Kisah klasik ini menggambarkan perjalanan Raden Panji Asmorobangun dalam mencari Dewi Sekartaji, sebuah narasi yang mengandung nilai universal tentang kesetiaan, pengorbanan, dan keteguhan hati.

Keraton sebagai Laboratorium Budaya
Dalam sambutannya, Gusti Moeng menegaskan bahwa Keraton tidak boleh sekadar dipandang sebagai simbol sejarah atau destinasi wisata. Ia memperkenalkan konsep Keraton sebagai "laboratorium budaya"—sebuah ruang hidup untuk proses pembelajaran, praktik, dan regenerasi kebudayaan.